Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts

August 3, 2011

Homicide - Semiotika Rajatega

MC hari ini lebih banyak menggunakan topeng dari Zapatista
Hampir sulit membedakan antara bacot patriot dan miskin logika
Bicara tentang skill kompetisi, mengobral sompral
Jatuh setelah berkoar, lari dengan ujung kontol terbakar
MC butuh federasi dan breakbeats berdasi
Untuk sekantung wacana basi dan eksistensi
MC Tampon, mencoba membuat mall menjadi Saigon
Amunisi tanpa kanon, mucikari martir yang gagal mencari bondon
Sarat kritik, kosong esensi seperti khotbah kyai Golkar
Bongkar essay kacangan lulabi usang pasca makar
Gelora manuver rima Kahar Muzakar
Tak akan pernah dapat menyentuh beat pembebasan B-Boy Ali Asghar
Hiphop chauvinis, kontol kalian bau amis, memang tak akan pernah habis
Persis duet Hitler tanpa kumis dan Earth Crisis
Krisis identitas, menyebut teman tongkrongannya 'niggaz'
Sebut dan diss nama kami, kubuat bacot kalian karam seperti Tampomas
Berusaha setengah mati menjadi negasi
Berlindung di belakang pembenaran interpretasi, basa-basi
Mengobarkan kebanggaan dengan microphone terseret
Tak sabar menunggu saat monumental kalian berduet dengan Eurrico Guterrez

Ternyata rencana invasimu lebih meleset dari konsepsi
Dan prediksi partai marxist akan kematian borjuasi
Melemparkan invitasi MC pada setiap rima
Dan Homicide masih mendominasi sensus kematian populasi akibat rajasinga
MC adalah negara yang membuat kontradiksi tak pernah final
Tanpa manifestasi yang sesubstansial gerilyawan maoist di Nepal
Lirikal neoliberal, yang memaksa indeks lirikmu turun drastis
Dan terlihat lebih dungu dari logika formal, terlalu tipikal
Dan masih jauh dibawah horizon minimal
Memiliki nasib yang sama dengan PSSI dalam kancah internasional
Hadirkan konfrontasi maka MC lari mencari pengacara
Dan mengakhiri argumen dengan histeria seperti Yudhistira tanpa hak cipta
Jangan berharap unggul dengan skill bualan ala TV Media
Yang membuatmu dan Iwa tersungkur dalam satu kriteria

Representasi yang membuatmu nampak seperti fatamorgana
Membuat setiap microphone battle berakhir dengan wajah yang sama
Persetan dengan persatuan, hiphop hanya memiliki empat unsur
Dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur

Memang memuakkan melayani diplomasi scene lawakan
Tapi pasti kalian dapatkan jika kalian ingin konflik atas nama kebanggaan
Bidani bacot imortalitas hiphop murahan seperti liang dubur
membuat lagu lama konservatif keluar liang kubur
Karena aku adalah seorang kapiten neraka mematahkan pedang panjang para lokalis duplikat dan plagiat para Wu-Tang
Arwah objek kritik lapuk layak sosialisme ilmiah
Mencoba mengancam dengan lulabi akidah
Paku dalam bingkai kaca keagungan moralitas, persetan kuantitas
Kematian memang identitas yang tak perlu imortalitas
Label adalah reduksi
Komoditas residu industri
Kultural hegemoni
Membidani oponen dalam posisi
Prosa pramudya yang bukan Ananta Toer
Mengepal jemari meski dengan batas teritori yang terkubur

Me-manage kalbu tanpa retorika Aa Gymnastiar
Menembus urat nadi distribusi tanpa harus membuat izinku terdaftar
MC menabur bensin dan tak pernah punya nyali menyalakan korek
Membacot dibelakang punggung lebih parah dari CekNRicek

MC yang sama petantang-petenteng
Sekarang membawa icon peace lebih banyak dari para anggota Slank
Kalian para martir hiphop
Patriot tai kucing
Yang membela lubang pantat logika dengan darah
Siapkan microphone kalian dan siapkan untuk menutup lubang tai sejarah
Dan bagi kalian yang menginterpretasikan lagu ini untuk kalian..
Lebok Tah Anjiing!!!

July 14, 2010

Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


Chairil Anwar, Maret 1943

June 3, 2010

Puisi Cinta Habibie Untuk Ainun

Puisi yang mengatasnamakan Habibie ini, tersebar di milis dan blog di dunia maya. Berikut isi puisi itu;

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada. Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
Selamat jalan, calon bidadari surgaku ....

B.J. Habibie