Showing posts with label Midnight. Show all posts
Showing posts with label Midnight. Show all posts

January 3, 2014

Endapan 2013 Untuk Sebuah Harapan yang Terus Berdetak

Belajar bahasa itu sungguh menyenangkan. Sejak kecil saat aku mulai belajar bahasa seperti bahasa Indonesia, Sunda, Inggris dan sekarang Korea, that was very interesting. Aku suka belajar bahasa, aku suka hal-hal baru yang berbau sastra, sejarah, seni, politik, psikologi dan jurnalisme.

Saat aku mulai untuk fokus pada hal yang kuminati itu, selalu saja ada hal yang dilematis. Banyak diantaranya cenderung pada kontradiksi pemikiran diri sendiri, hobi atau orientasi masa depan tentang materi. Meski pada akhirnya bisa diatasi dengan perlahan.

Di tahun 2013 muncul niatku untuk pergi ke negeri ginseng, Korea Selatan untuk bekerja. Pemerintah daerahku membuka peluang besar untuk menjadikan pemuda/pemudi yang belum lama lulus SLTA untuk bisa bekerja di sektor industri di Korea Selatan. Semangatku menggebu sejalan dengan banyaknya prediksi baik akan negara kaya itu. Terlebih setiap kulihat di tv berita tentang harga rupiah yang terus melemah bisa menimbulkan mata uang Korea bisa lebih mahal jika ditukar ke kurs disini.

Tapi perlahan rencana menjadi terkendala banyak hal. Awalnya kukira tak akan serumit ini. Memang saat ini sudah cukup banyak materi dasar pelajaran bahasa Korea yang kukuasai, tapi itu tidak cukup, karena untuk menghadapi ujian kelulusan, dalam beberapa bulan sebelumnya harus menjalani proses belajar lagi; pemantapaan.

Aku sudah menjalankan proses awal belajar dasar sejak Juli sampai Oktober 2013, dan sekarang sisanya aku belajar di rumah. Banyak perbedaan, kalau di rumah lebih malas dan tidak ada teman untuk sharing. :/

In the end, aku tidak memilih pemantapan di bulan Januari dan Februari dengan beberapa pertimbangan yang sangat kompleks. Tapi aku akan ikut ujian nanti sekitar bulan Juli tahun ini, meski tidak dapat tambahan di pemantapan. Aku hanya mengandalkan kerajinanku di rumah saja. I beg for my future.

Setelah memutuskan itu, aku sangat down. Sempat galau dan mengisolasi diri dalam beberapa hari. Aku tidak keluar kamar dan stress. Kesal pada orang tua yang tidak sejalan dengan tujuanku. Entah kenapa aku merasa itu adalah kekecewaan yang sebetulnya bisa dihadapi, tapi orang tua berkata lain.

Sementara, di sisi lain, teman-teman dekat yang selama ini selalu ikut andil dalam perjalanan hidupku mengatakan hal lain dan menawarkan solusi tersendiri. Bisa dibilang itu juga baik, tapi tetap saja - mayoritas orang bilang pilihan pertamaku adalah pilihan yang terbaik, sebuah peluang untuk masa depan.

Aku berpikir bahwa bergelut dalam dunia entertainment tidak selamanya di atas dan stabil. Aku lebih tertarik untuk bekerja di Korea, meski dengan susah payah perjuangannya tapi akan menuai hasil dalam beberapa waktu yang itupun tidak terlalu lama. Tapi meski begitu, dunia musik yang menjadi semangat hidupku tak akan aku lupakan. Karena suatu saat, aku akan kembali dengan semangat yang baru dan susah untuk padam. Karena musik adalah passionku, hal yang pernah membawaku pada puncak rasa percaya diri, hingga menjadikanku tahu tentang indahnya dunia.

Aku akan berjalan pada dua jalan tersebut. Cita-citaku adalah menjadi musisi dan juga pengusaha. Hobiku membaca, menulis, bermusik. Hal itu akan kujadikan pedoman hidup sampai akhir hidup nanti. Semoga Allah memberikan yang terbaik dalam setiap niat baikku dalam menjalani semua "rencana-rencana itu", karena Allah lah yang "mengizinkan".


Aep Hermawan, 3 Januari 2014

November 25, 2013

(Mind)night

Malam hari adalah disaat para penulis lagu, pujangga, penulis naskah skenario film, novelis, bergelut, bercengkrama dan bersetubuh dengan fantasinya.

October 26, 2013

Rindu Sahabat

Rindu sahabat, dari generasi ke generasi yang baru. Punya yang baru yang lama dilupakan. Sepertinya seperti itu, tapi sebetulnya tidak. Sahabat akan tetap membekas dalam pikiran dan hati karena telah #pernah bersama dalam beberapa saat dalam hidup ini. Semoga kalian di sana, di tempat yang berbeda-beda senantiasa berbahagia dengan hidupnya masing-masing. Doaku selalu menyertai kalian.

November 3, 2012

03-11-12

Ya Allah aku merasa serba salah. Apa aku akan selamat dari zona ini? Apakah Kau akan menyelamatkan orang malas sepertiku? Aku sangat manja dan malas, hanya punya impian. Mau tidak mau siklus hidup akan berlaku.

November 2, 2012

Today is Labile

Today is labile.

Bangun tidur selalu kesiangan, selalu gak keburu Sholat subuh. Sial!
Sebenernya udah sadar kalo udah pagi, tapi tetep aja nempel di atas bantal. Sial!
Seluruh tubuh sepakat kalo pagi ini adalah sebuah hari yang tanpa tekanan dan tantangan.

Biasanya kalo lagi waktu (sangat) senggang, gue selalu pengen maen gitar.
Untung aja sekitar seminggu kebelakang, gue nginep di rumahnya si As dan besoknya gue pulang sambil pinjem gitar dia. Aneh juga, selalu ada jalan menuju "maen gitar" walau gak punya gitar.

Semua kan udah tau kalo gue gak pernah serius ngemodal beli gitar, cuma ngandelin belas kasihan temen-temen gue aja.
Tapi sejak dua hari lalu, gitar itu kayaknya jadi kurang efektif banget.
Sedikit-sedikit gue gampang bete maininnya. Kalo enggak ada, pasti nyari-nyari, pas ada malah dibiarin. Sial!


---


Yang memalukan adalah status gue yang masih setia ber-nganggur ria. Emang enggak kayak gambaran banyak orang kalo pengangguran itu biasanya pagi-pagi berjemur sambil ngerokok dan segelas kopi susu. Jhaha, no. Gue enggak kayak mereka. Lagian gue gak suka kopi, gak suka ngerokok, enggak suka hura-hura juga - mikir juga sih, uang dari mana? Enggak, maksud gue itu, gue emang gak suka foya-foya kalopun lagi punya uang.

Gue bingung banget banyak yang ngasih "solusi" tapi terkesan malah jadi masalah karena rumitnya solusi itu. Ada sodara gue yang ngajak join gue untuk bikin usaha sablon di rumah gue, tapi masih belum bisa sekarang karena modalnya belum cair, harus nunggu beberapa minggu lagi, itupun kalo emang bakal deal; uang pinjeman pula -___-

Si Udo juga waktu malam lima hari yang lalu ngasih saran supaya gue kerja sama kayak dia di Alfa mart. Aneeeeeeh banget, otak gue terlalu penuh sama analisa. Akhirnya analisa meleset dan peluang hangus. Sial! Opsi si Udo cukup bisa gue pegang, hemmm gak tau kenapa, banyak banget yang lewat di pikiran gue, seakan ragu sama pilihan ini, padahal kata dia, ini cukup banyak plus-nya.

Tapi kata sodara gue, mendingan buka usaha sendiri. Jadinya penghasilan kita gak akan dibatas sekian-sekian per-bulan. Iya sih, guenya juga udah muak banget sama sistem kayak gitu. Kerja di orang lain malah bikin gue tambah kurus. Terlalu banyak beban pikiran dan regulasi yang memaksa.

Ditengah situasi genting ini, kemarin gue nyempetin jalan-jalan sama temen gue, si Sandy ke Bukit Indah Gambung. Rencananya mau ngetes kamera iPod-nya si Sandy. Disana kita foto-foto sambil bawa bass juga. Tapi sayangnya cuma berdua, gak lengkap tanpa ada si Abie.

Alhamdulillah, lumayan masih ada hiburan ditengah-tengah hujan yang gak asik. Tapi gue tetep harus berusaha biar ini bisa berubah-seberubah-berubahnya. Gue juga udah bete-sebete-betenya. Pokoknya gue pengen yang nyaman dan duitnya jelas. Minta doa kalian semua ya, buat yang suka ngintip tulisan gue, gue berharap bisa berkarya dan bekerja di bidang musik. Sekian dan terima kasih. HAHAHAHAHAHAHA...

October 28, 2012

Sunda Bebeja

Si Agnes kalah beuki cuek bebek. Hayeuuum. Susah euy. Kumaha nya, mening entong we kitu, da bari kristen deuih, pibakaleun ruweut ieu mah. Bogoh mah teu kudu kieu ceuk batur oge. Sial euy urang mah kajebak cinta buta. Kudu dipohokeun ieu mah. Urang wae nu miheulaan, asa teu pantes. Hayoh weh dideketan ari manehna embungeun mah da moal eucreug ah. Geus ah montong dituluykeun nukieu mah, pidorakaeun wae. Korban perasaan.

October 23, 2012

A

Malam ini jujur aku serius memikirkan sesuatu.

Sosok itu adalah sosok yang susah kulupakan
Dia sangat bepengaruh
Dia sangat aku hargai
Aku kenal dia sejak kelas dua sekolah SMP

Lama tak terdengar kabar darinya. Aku sangat merindukannya. Tapi perasaan itu tetap saja selalu ada setiap aku mengingat sosoknya. Aku tidak bisa menjelaskan hal ini. Terlalu banyak kenangan yang berkesan untukku. Aku ingin bertemu dia tapi aku malu. Dia sedang melenggang diantara kesuksesan, aku khawatir dia akan berubah padaku.

Cukup lama memori itu mengapung tak jelas. Tapi hembusan gelombang kabar perlahan menghembuskan rasa kepenasarananku. Sedikit demi sedikit kenyataan mulai tersingkap dengan elegan.

Apa kamu masih ingat saat-saat hampir terakhir kali kita bertemu? Dan saat-saat lainnya, selalu saja aku menghadapkan sikapku yang pemalu ini kepadamu hingga kamu pun merasa aneh. Aku yang terlalu lower atau kamu yang biasa saja? Keadaan kita beda tapi keinginan kita yang sama.

Ya Allah, aku sangat merindukan teman karibku itu. Semoga dia bisa merasakan rindu yang ku rasakan juga. Dua setengah tahun lebih, waktu yang melekat seperti lem kayu dalam otakku.

October 22, 2012

Malam yang Berkeringat Kegelisahan

Hari ini, maksudnya kemarin, karena sekarang udah jam 12:29 am, capek banget. Dimulai dari kerja dari pagi hari dan akhirnya gue stuck di jam setengah duabelas siang. Tenaga gue udah abis. Sialan banget gue kan gak biasa kerja secapek itu. Fisik gue semakin ringkih dengan beban-beban itu. Ditambah keadaan kesehatan makin buruk. Seringkali penyakit-penyakit temporal di tubuh gue mendadak kambuh. Anemia, migrain, sesak nafas yang gak jelas apa sebabnya. Hidup gue jadi semakin menderita dengan keadaan baru ini. Setelah gue resign dari sebuah cafe, waktu menuntut gue untuk kembali sigap dan memaksa untuk selalu jangan berleha-leha. Karena dengan sikap itu, harapan dan masa depan yang gue dambakan akan semakin jauh. Gue takut banget, setakut-takutnya orang yang kehilangan orang terkasihnya. Disaat semua temen-temen gue mendapatkan apa yang mereka mau dengan keberuntungan mereka, gue malah masih diem disini dan cuma bisa merhatiin mereka, dari socmed pula. Gue rasanya malu kalo ketemu mereka. Perasaan gue udah kabur karena mindset baru ini makin kuat tercipta seiring perkembangan hidup mereka.

Kenapa hidup ini begitu kejam? Menurut gue, gue gak salah kalo selalu ngambil keputusan resign disetiap kesempatan kerja yang pernah gue alami. Perlakuan yang gak semena-mena dan gak sopan, apa harus ditanggapi dengan senyum murah yang mencerminkan kepasrahan? Santai dimarahi? Tenang dijelek-jeleki? Diungkit-ungkit kesalahan sepele jadi masalah gede dengan mulut yang kotor, gak mencerminkan orang dewasa pintar yang bijak. Kenapa gak pake bahasa yang lebih lembut dan santun? Intinya, gue gak bodoh. Semua yang gue pilih adalah yang terbaik. Bukan berarti kehilangan sebuah pekerjaan yang menurut orang lain bagus adalah sebuah kesalahan besar yang gak akan bisa dicari lagi di dunia ini. Untuk apa manusia diberi akal kalo harus selalu terpaku pada satu hal dan berat banget untuk move on? Think again.

Mental ini semakin kesini malah semakin lemah. Gak kayak orang lain yang selalu survive. Apa bedanya survive dengan maksain untuk tetep disitu, kerja dengan omelan kecil atau besar yang setiap berangkat selalu jadi momok yang membayangi saat-saat sibuk kerja itu. Gue gak rela untuk hal ini. Emang hidup ini sulit kalo mikirnya sempit kayak gue. Jujur gue emang suka gampang putus asa, apalagi ditengah situasi yang lagi parah kayak gitu. Seakan gak bisa nahan kontrol atas diri sendiri. Gak bisa nge-handle situasi biar lebih aman minimal buat gue sendiri. Dilain sisi, kebanyakan temen gue udah pada sukses. Mereka dapat dukungan penuh dari keluarga atau sodara atau temennya yang punya banyak kanal untuk terjun ke dunia bisnis yang ekstrim tapi kalo emang serius berani malah akan ngejadiin kaya, kaya banget. Buktinya aja temen gue, sekarang denger-denger dia udah punya mobil sendiri. Gak tau gimana caranya dan dimana dia kerja. Sumpah deh gue iri banget, udah ketinggalan langkah dari mereka, para pencuri start.

Apa yang harus gue lakukan untuk mencoba seperti mereka, minimal ada di belakangnya sedikit, sukur-sukur kalo bisa sama sejajar dengan mereka atau melebihinya. Apa gue harus pinter-pinter nyari sesuatu itu, yang bisa ngebikin keadaan gue lebih baik. Gue akan tunggu kabar (yang semoga) baik itu dari sodara gue di pertengahan bulan Dzulhijah ini. Dan semoga Allah memberkati semua yang gue harapkan. Semua manusia adalah ciptaan Tuhan, jadi kenapa selalu ada perbedaan takaran rezeki? Kenapa gue gak sama dengan dia atau mereka. Apa ini semua kesalahan gue? Kadang gue merasa pengen gak ada di dunia ini. Ini udah maksimal loh kalo menurut kemampuan gue. Ikhtiarnya udah, do'anya mungkin kurang panjang jadi kurang sempurna?

Sepertinya gue harus introspeksi lagi kenapa semua ini selalu terjadi pada diri gue.

Move on, shine on!
Move on, shine on!
Move on, shine on!



Terima kasih untuk hari ini. Kalian ngasih banyak perhatian dan pengaruh buat gue. Latihan band tadi cukup seru walau sebenarnya gue udah ngerasa lemes banget. Bodi guenya udah bobrok kayak mobil butut. Anyway, Thanks for you both, Sandy and Abie.

October 13, 2012

Postingan Sehabis Pulang Latihan

Baru pulang dari studio Jhard. Seru bisa ketemuan lagi sama temen-temen.
Jimmy, Viu, Itep, Asep kalian baik banget, hehehe. Awalnya niat gue hari Jum'at itu mau ke Rajawali, mau ke catering. Tapi males.

Gak nyangka sikap mereka ke gue masih tetep baik.

Mereka bilang kangen gue. Soalnya udah cukup lama sih gue gak kesana untuk latihan. Kira-kira 2 minggu. Khusus untuk si Viu, dia itu jarang banget ketemu gue pas lagi latihan. Kalo gue ada, dia suka gak ada, sibuk ngapelin pacarnya. Tapi tadi dia kebetulan ada.

Effect gitar baru, nambah semangat. Senengnya, gue itu selalu disambut baik waktu datang kesana atau misalnya pas lagi mainin gitar, gue suka dipuji sama anak-anak tetangga deket studio - sebut aja namanya Itep dan kawan-kawan :) Bukannya gue kege-eran, tapi gue seneng aja kalo ada orang yang suka ngasih apresiasi - sekecil apapun ke orang lain. Itu yang bikin orang bisa bangkit kalo lagi terpuruk. Apresiasi dan pendekatan yang prefentif. Gak kayak kerja di kopi luwak itu, gue seperti gak berharga, gak ada apresiasi atas kinerja gawe gue. Fuck you.

Rencananya bakal ada kegiatan promosi di Jakarta dalam waktu dekat tapi belum tau kapan deal-nya. Oh.. gue kangen banget kak Erik, manager band gue. Sikapnya yang kalem dan hebat itu yang gue kagumi. Lama gak ketemu bikin semua pihak jadi ngalamin naik-turun semangat. Untungnya dengan seringnya kita ketemu untuk latihan atau kayak tadi, sekedar ngobrol biasa karena si Rian gak bisa hadir, sangat ngebantu untuk ngelancarin hubungan ini.

Gue akuin kalo gue salah masih belum ada keputusan kerja lagi. Setelah si Asep tadi ngasih gue saran, akhirnya terbuka juga pintu hati gue yang selama ini buta akibat mindset yang close minded. Gue harus kerja, mungkin kalo ngikut dia juga oke. Tapi kata si Asep, lebih baik gue nyari yang lebih baik, biar gak ngerasain rasanya "tekor per-bulan", hahaha. Thanks atas saran dan motivasinya, akan gue coba secepatnya.


Good night.

September 20, 2012

Meninggalkanku

Meninggalkanku
(By Jimmy Jhard)

Kusalah bila ku memaksamu
Ku terlalu mengharapkan dirimu
Tapi kini kau meninggalkanku
Meninggalkan diriku tuk pergi bersama dirinya

Reff : Kau hancurkan aku
Ku tak mengerti apa yang terjadi
Ku tahu dirimu bukanlah yang terbaik untukku

Mungkin suatu nanti ku pasti dapatkan
Seseorang yang mencintaiku
Mungkin suatu nanti ku pasti temukan
Arti hidup yang baru tuk bisa melupakanmu



Gak ada lagi kata-kata itu. Semua rasanya percuma. Gue udah nelpon dia, awalnya enjoy banget, gue makin nyaman. Terus gue udah ngasih kabar ke dia kalo nanti gajian gue pengen ngajak dia nonton bioskop di jatos. Besoknya angin-anginan. Setelah gue cari tau alasannya, gue ngedrop. Gue udah terlalu sayang sama elo tapi elo selalu bilang makasih doang. Gak pernah bilang iya gue mau jadi pacar gue. Gue yang salah udah maksa lo untuk jadi orang special gue padahal gue tau lo udah punya pacar. Gue selalu jadi objek sekunder. Gue suka banget sama elo, terus gimana cara gue ngelupain sosok lo yang baik dipikiran gue? Gak semudah itu. Gak semudah lagu buatan temen gue di atas. Cinta emang gak punya logika. Sejauh ini gue masih inget lo terus. Biarin waktu yang perlahan ngebuat semua ini berubah dengan sendirinya.

September 16, 2012

Gitar

Cordoba GK Studio Nylon String Acoustic/Electric Guitar (Includes Gig Bag)

AWESOME GUITAR !!!




Setelah berjalan lamaaaaa banget, akhirnya gue ngalamin rasa kangen yang begitu besar terhadap sosok gitar. Asal lo tau aja, katanya gue itu seorang gitaris, notabene pernah-lah manggung ngeband atau hal-hal yang agak-agak mirip dengan begituan. Tapi sampe saat ini gue gak pernah serius untuk punya gitar sendiri yang milik gue banget dan bagus. Gue selalu ngandelin gitar pinjeman dari temen yang gitarnya suka nyasar ke rumah gue gara-gara sikap kakak gue yang familiar sama tetangga-tetangga gue (sikap yang sangat berlawanan dengan yang gue punya; anti sosial *i guess*)

Gue bisa bilang, terakhir gue punya gitar itu waktu gue lagi kelas dua SMA. Gitar itu udah tua banget. Mereknya Genta, itu merek gitar lokal buatan Cibiru-Bandung. Gue masih inget, gue beli gitar itu seharga 45 ribu rupiah, ya namanya juga gitar bekas. Keliatan banget ya, gak modal banget gue! Gitar itu sebenernya jelek banget. Setelah gue beli dan kebetulan waktu itu lagi ada sepupu gue yang kerjaannya dibidang spesialis painter meubel. Terus gitar itu yang tadinya burik berubah jadi hijau metalik. Emang sih jadi kelihatan agak lebih baik, tapi suaranya jadi agak berubah gitu. Mungkin lapisan gitarnya jadi terlalu tebel karena lapisan dempul dan cat air brush. Waktu kelas dua SMA, gue mutusin ngejual gitar itu... Ah! Dijual? Gitar murah gitu dijual lagi? Gue sendiri sekarang jadi mikir lagi, kenapa itu dijual? Dijual berapa, gue udah lupa. Hahahahaha.

Sempet ada pikiran jenuh dengan kebiasaan yang gak kunjung ada hasil yang memuaskan. Maen gitar terus tiap hari tanpa ada tujuan yang jelas yang menjurus pada target yang mantap. Hanya sekedar hiburan sejenak dan kemudian bosan lagi. Untuk beberapa waktu, gue sering ngalamin rasa datar terhadap permainan solo gitar gue yang kalo disimpulkan gak ada perkembangan. Terutama gue gak belajar secara formal tentang gitar, cuma belajar otodidak dan palingan nyontek sedikit-sedikit dari temen-temen gue yang ilmunya lebih dari gue. Malah lebih banyak belajar tentang wawasan musik secara universalnya, tentang nama-nama gitaris terkenal, teknik yang rumit, lagu-lagu barat, dan banyak direktori-direktori musik lainnya yang gue ulik tanpa belajar lebih dalam tentang praktek gitarnya itu sendiri. Jadinya pincang gini, porsinya gak terpenuhi secara ideal.

Awal mula gue gak punya gitar, anehnya gue masih bisa maen gitar terus walau bukan gitar gue. Emang bener peribahasa sunda yang bilang "elmu mah teu beurat mamawa". Dengan modal sedikit skill gitar, gue terus belajar dari satu teman ke teman yang lain dengan gitar mereka. Karena temen gue waktu itu banyak yang gitaris juga, jadinya gak susah kalo mau sharing gitar. Kadang gue juga suka pinjem gitar temen gue sampe berminggu-minggu.

Waktu bikin band Devonier di permulaan tahun 2011, gue masih belum punya gitar. Beberapa bulan setelahnya, band itu bubar dan gue beralih ke Jhard untuk jadi pemain pembantu, ngisi kekosongan posisi gitar. Waktu itu pun gue masih belum punya gitar juga hahahahahahahaha. Malahan gue jadi ngerasa lebih dipermudah karena band itu punya studio sendiri. Lagi-lagi keliatan gak modalnya. Nah, setelah event tour Oktober 2011, aktifitas band jadi berkurang. Sampe hari ini masih tetep begitu, tapi katanya nanti bakal aktif lagi (sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan - LOL)

Tadi sekitar jam setengah delapan malam gue pulang dari kantor karena lapar banget. Kemarin sih nginep disana biar gak telat pas paginya kalo mau prepare berangkat. Pas udah pulang ke rumah, gue langsung makan, terus tiduran. Ternyata di rumah ada gitar (gitar tetangga) yang dipinjem kakak gue entah sejak kapan. Gue ambil gitar jelek itu, gue mainin beberapa chord, seneng banget. Eh gue serasa punya mainan yang bikin gue jadi orang yang spontan dan berkontemplasi secara serius, lol.

Kangen suasana itu. Chord maen gitar akustik yang gue ulik sendiri, di tengah malam yang sepi. Sejarah. Salah banget gue pernah mikir kalo gitar itu gak penting. Gak ada yang lebih penting selain hal yang udah pernah dikuasai sebelumnya, dan pernah ngebuat diri gue jadi bertahta. Pengalaman hidup yang gak akan bisa dibeli dengan uang: Perform disaat SMP dengan lagu muse, hysteria dan green day, american idiot.

Gue harus beli gitar sendiri, gitar yang bagus, yang akustik, karena kalo elektrik menurut gue gak menarik. Enggak tau kenapa gue jadi lebih condong ke bass dan permainan akustik daripada gitar/lead guitar. Gue suka musik akustik dan bossanova.






September 5, 2012

After homesick, I get all the things that don't exist in my workplace

I feel so blessed to have such wonderful and amazing people to call family :')

September 3, 2012

Bleeding Love



Closed off from love
I didn't need the pain
Once or twice was enough
And it was all in vain
Time starts to pass
Before you know it you're frozen

But something happened
For the very first time with you
My heart melts into the ground
Found something true
And everyone's looking round
Thinking I'm going crazy

But I don't care what they say
I'm in love with you
They try to pull me away
But they don't know the truth
My heart's crippled by the vein
That I keep on closing
You cut me open and I

Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
I keep bleeding
I keep, keep bleeding love
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
You cut me open

August 16, 2012

Resolusi & Nilai Moral

Ramadhan sebentar lagi berakhir. Gak terasa sebulan cepat berlalu. Inti dari waktu special ini adalah untuk berfikir lebih matang dalam segala hal. Segala aspek kehidupan diusahakan harus bisa lebih baik daripada sebelumnya. Pendewasaan diri atas segala hal yang dilakukan. Pengambilan keputusan dalam sebuah keadaan bimbang antara bermacam pilihan yang sama-sama punya nilai plus. Bulan Ramadhan yang indah bagi orang yang emang sungguh-sungguh pengen lebih mendekatkan diri pada Allah. Alhamdulillah, iman. Semoga hasil dari Ramadhan tahun ini akan jadi sebuah bekal untuk hidup gue dimasa depan. Bekal yang bisa membuat gue lebih "matang" dan "sukses" menurut syariat agama Islam.

Alhamdulillah ya Allah atas segala Rahmat dan HidayahMu, aku sampai saat ini masih bisa melaksanakan apa yang telah Engkau perintahkan, setidaknya sekemampuanku (dalam menahan hawa nafsu dan bertahan)

August 13, 2012

Please, Grateful!

Bonjour! Kembali lagi bersama gue, si tukang nguntit blog orang, hahaha. Lagi-lagi kali ini gue mau sharing tentang hari-hari yang gue jalani. Siap-siap duduk yang rapi, siapin mata lebar-lebar, cemilan dan hemmm berharap gak bikin lo pengen muntah, jiaaah!

Secara ya, seharian itu gue biasanya cuma diem di rumah, dalam arti gak main ke luar (untuk apapun) kecuali ke Masjid deket rumah. Alhasil kehidupan gue berubah seketika jadi seorang bunk junk yang useless banged. Itu gak keren dan yang pasti norak dan bikin ortu jadi kesel gara-gara gue gak bisa produktif - so called; nyusahin mereka, karena sedikit-sedikit minta uang dan uang lagi, mirip anak sekolah yang bisanya cuma pergi ke sekolah aja.

Seperti yang udah gue tulis setahun yang lalu, - eh masa sih setahun yang lalu? Gila udah lama banget berarti ya gue resign dari kantor dan betah berstatus tunakarya sejati. I really fucken' Stupiddd....

Di postingan blog sebelumnya, gue pernah cerita tentang proses gimana perjuangan gue pengen bisa kerja di sebuah factory outlet famous di Bandung. Itu sangat ngeselin banget, karena ternyata kelanjutan dari ekspektasi gue berbuah ketidakpuasan alias gak keterima. Don't think about it anymore.

Hari demi hari gue lalui dengan kesepian (emang udah biasa kali), dan yang nambah suasana jadi lebih parah adalah dengan gak adanya sosok kertas yang bernama duit dalam segala aspek kebutuhan dan keinginan gue sehari-hari. Gimana coba, pernah gak lo ngerasain enggak punya duit sedikitpun? Dan itu rasanya sengsara banget, tapi anehnya ternyata sampe saat ini gue tetep bisa bertahan dengan situasi macam ini. Thanks Allah. Coba bayangin gimana kalo situasi ini terjadi disaat gue punya tanggungan, misalnya istri atau anak-anak? Hah.. gue gak bisa bayangin deh. Untungnya, gue sekarng gak punya tanggungan. Eenngg sebenernya bukan ke-tanggungan hidupnya sih, tapi lebih ke gak-tau-diri-an-gue, kenapa udah segede gini belum juga kerja, dan kalo bisa bales budi ke ortu yang selama ini udah berkorban untuk anaknya, ya kalo diitung pastilah banyak banget, gak keitung. Terlebih, gue waktu kecil sering banyak minta barang-barang yang mahal karena emang gue adalah si bungsu (҂⌣_⌣)/

Keseharian gue makin bokis dengan gak adanya sosok benda bernama gitar akustik! Lo tau gak gimana kalo seandainya ada tentara yang ditugasin untuk perang ngelawan musuhnya tapi dia gak bawa senjata laras panjangnya, bahkan pistol revolver pun gak bawa? Masa setiap apapun harus mengandalkan opsi terakhir yang namanya spontansitas dan lebih percaya ke pasrah moga aja keajaiban datang ke orang yang males dan sial? Itu sangat sangat gak banget, you know. Gue gak suka kalo udah kayak gini. Banyak tuntutan dari temen-temen band gue untuk ini-itu perkara ngulik lagu-lagu baru. Tapi gue, FYI - gak punya senjata kayak tentara diatas. Gue gak punya gitar, entah itu bass, gitar elektrik, malahan gitar akustik juga gak ada. Parah banget kan? Kalo dulu sih emang punya, tapi dijual gara-gara gue sempat mikir kalo bermusik itu gak ada manfaatnya. Ternyata itu salah besar.

Tapi kenapa ya gue masih bisa tetep bisa ngeband disetiap minggunya atau disetiap ada ajakan mendadak (spontan yang bener bener banget) untuk pergi latihan band dengan materi lagu-lagu baru (?), padahal temen gue yang lain sebelumnya udah ngulik dulu, cuma gue yang enggak. Gue cuma ngandelin feeling dan improfisasi. HAHAHAHAHA aneh bin ajaib tapi nyata. Emang sih lagu-lagunya termasuk rada-rada familiar di telinga, tapi ya tetep aja sih kalo gak pernah ngulik sedikitpun, itu bakalan ngeruksak suasana asik yang ada. Gue gak tau harus ngejelasin gimana, ini serius.

Beberapa hari yang lalu gue nyoba ngefollow-up rencana gue yang kedua tentang ngelamar ke Head Office-nya "Careuh Coffee" Kopi Luwak (untuk daerah kota Bandung) yang tempatnya lumayan deket dari rumah gue, di Ciwidey. Did you know that all isn't only always impossibility, right? 

Surprises, gifts, fortune anndd love SUDDENLY hugged me till make me silent.
Gue keterima kerja disana setelah dua hari yang lalu gue ngirim cv. Cepet banget, dan gue pastinya senang sekali. Sekian lama gue nganggur, pada akhirnya gue berhasil juga. Alhamdulillah banget ya Allah.

Tadi pas gue mau Tarawih, my dad ngasih tau gue kabar baik itu, padahal waktu itu gue lagi di Masjid udah stand by mau Tarawih. Karena motiv itu gue penasaran juga. Clue-nya ada kabar dari A Wawan, katanya soal kerjaan itu tea! Untungnya sebelumnya gue udah Ssolat Isya dulu, jadinya pas gue gak jadi Tarawih, gue gak terlalu ngelewatin yang fardunya. Gue pulang ke rumah buat ngobrolin kedatangan A Wawan itu. Eh beneran dia ngasih tau kalo gue keterima kerja disana. A Wawan itu kan asistennya boss Kopi itu.

Mulai kerjanya nanti bulan Syawal, abis lebaran. Thanks ya Allah and someone fucken' special who is close enough to me lately, Agnes... Semoga gue akan betah gawe disana, Aamiin ya Rab.

August 3, 2012

Letter to Kak Erik

to "Kak Erik", manager band Jhard



Kak apa kabar nih? Lama gak ada kabar. Kita disini nunggu-nunggu loh pengen tau mau gimana kedepannya tentang band Jhard ini.

Udah sejak Desember aku gak ketemu kakak lagi. Katanya kakak pergi ke Padang untuk urusan bisnis. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Band ini seperti kaku dan buta karena gak ada pengarahan dan konsep yang jelas dari kakak. Waktu itu, waktu kita pergi ke Bogor untuk bikin video clip, kirain kakak bakal pulang dulu lah sebentar buat ngemonitor kita, tapi nyatanya gak ada. Kakak masih aja di Padang untuk urusannya. Kayaknya urusan itu penting banget dan gak bisa ditinggalin.

Aku pernah bilang, aku rencananya mau ngebuat band baru lagi diluar Jhard. Tapi sampe sekarang belum juga kesampean niat itu. Enggak dipungkiri, emang beberapa bulan setelah aku ngomong itu ke kakak, aku emang bikin band baru dengan cara balikan lagi ngeband sama band aku yang pernah bubar, Devonier. Sialnya, sekitar sebulan kemudian akhirnya bubar lagi karena masalah klise - bisa dibilang vokalisnya itu trouble maker. Kita udah berusaha serius ngebangun lagi band itu dengan perlahan namun pasti, tapi dia malah gak ngimbangin semangat anak-anak yang lain. Dia malah terkesan gak begitu percaya dengan rencana matang yang kita omongin tentang sosok manager itu, iya maksudnya rencana kakak jadi manager band kita itu.

Aku udah lama gak latihan lagi sama Jhard, udah lama banget. Ditambah lagi sejak si Asep kerja di toko swalayan, jadi makin terikat deh. Semua juga tau kalo aku tanpa ada si Asep suka gak semangat latihannya. Alasan lain karena rumah aku dan rumah si Asep agak deket, tapi dia malah kerja, dan otomatis jarang ada di rumah. Terus kalo pun libur, kadang gak hari rabu atau minggu seperti jadwal kita latihan.

Sekarang udah Agustus, ada kabar di forum facebook Trinalars, launching kompilasi akan dilaksanakan di pertengahan bulan Agustus 2012. Dan kata kakak, kakak akan pulang untuk ngebahas kita juga di bulan Agustus. Terus gimana selanjutnya? Masalahnya sejauh ini kakak gak ada komunikasi sama sekali. Jadi gimana sekarang? Aku dan semua teman di band bingung. Pernah beberapa bulan lalu kakak bilang akan pulang di bulan April, nyatanya gak jadi. Sempet ngilang lagi dan pas ditanya (lewat chating pula) kapan pulang, jawabnya Juni, ternyata gak juga. Nah, mungkin aja Agustus juga gak balik juga. So, what's next?

Kehidupan gue seperti terikat. Bukan maksudnya gara-gara band ini. Tapi mau gak mau, gue udah suka musik dan maunya sih lebih baik kegiatan nyari uang gue maunya di bidang itu. Tapi kenyataannya susah banget. Oke, optimistis!

Seandainya nih, kalo di Agustus ini kita serius bakalan ngejalani langkah demi langkah proses promo, berarti kan kita, maksudnya aku, harus punya waktu yang leluasa banget. Gak boleh terikat kerjaan atau apapun yang bisa ngeganggu aktifitas pergi-pergi ke luar. Dilematis, sekarang ini aku gak kerja karena sejauh ini kerja di sebuah perusahaan ketring aku rasa gak memuaskan, baik secara passion atau pun finansialnya. Sudah seharusnya aku move on ke tempat lain yang lebih representatif dengan apa yang aku pengen.

Seminggu ini aku mikirin untuk ngelamar kerja ke sebuah perusahaan, tapi tetep jadi pikiran. Aku belum ngirimin lamarannya karena masih inget band. Aku masih berharap bisa lebih dapat berkesempatan untuk berjuang di jalan musik. Karena kalo kerja, itu pun gak sebegitu enjoy kalo targetnya hanya gaji. Tapi kalo musik aku dapat keduanya, uang dan passion.

Aku harus nunggu sampe ada kabar dari kakak. Sebetulnya selain ini, ada banyak juga hal yang pengen aku obrolin. Maaf mungkin ini sedikit aneh, kok aku jadi sok akrab dan agak lancang-berani ngobrol gini, padahal kan gak perlu segitunya. :)